Kiat-kiat Menghentikan Langkah Man City agar Gagal Juara

lesehanbola.net – Manchester City adalah kandidat juara Premier League paling kuat musim ini. Sangat sulit menghentikan tim besutan Josep Guardiola tersebut.

Di pertandingan terakhir, mereka baru saja mengalahkan Arsenal dengan kemenangan telak, 3-1.  Sejak awal musim ini, mereka tak pernah mengalami kekalahan. Selalu menang dan hanya sekali mendapat hasil imbang ketika menghadapi Everton yang berakhir dengan skor imbang 1-1.

Sekarang, klub bermarkas di Etihad Stadium tersebut menduduki peringkat pertama dengan mengumpulkan 31 poin. Dari Manchester United di peringkat dua, mereka punya jarak 8 poin. Lalu dengan juara bertahan, Chelsea, berjarak 9 poin.

Pencapaian ini menjadi prestasi sendiri bagi Manchester City di Premier League. Kemasan poin sebanyak 31 poin pada pekan 11 dan surplus 31 gol merupakan awal terbaik di liga Inggris.

Bukan hanya jumlah poin saja yang membuat The Citizens patut disebut sebagai calon juara Premier League musim ini. Mereka telah membuktikan ketangguhan sebagai tim dan sudah melewati sejumlah partai penting yang menentukan.

Menghadapi Chelsea di Stamford Bridge pada pekan ketujuh kemarin, City sukses membawa pulang poin penuh setelah menang 0-1. Kemudian saat bertemu dengan Liverpool pada pekan keempat, mereka juga menang telak dengan skor 5-0.

Berbicara juara di pekan ke-11 memang masih terlalu prematur. Namun paling tidak performa Manchester City musim ini sudah bisa menjadi tanda-tanda kekuatan mereka menuju gelar juara.

Guardiola yang mulai menangani Man City musim lalu, memang tidak bisa memberi gelar apa-apa. Tapi kemudian wajah City benar-benar berbeda musim ini. Pelatih asal Spanyol tersebut tampaknya sudah menemukan titik penting dalam upaya meningkatkan potensi pemainnya.

17 pertandingan yang telah dijalani sejauh ini, City tercatat 16 kali menang dan satu kali imbang. Mereka telah menorehkan 52 gol di semua kompetisi. Itu adalah rekor baru untuk klub Inggris dari 17 pertandingan. Akhirnya tak aneh jika Manchester City ditetapkan sebagai klub paling bernilai di dunia mengalahkan Barcelona atau Real Madrid, menurut CIES Football Observatory. Nilai skuat Man City saat ini setinggi 1,196 miliar euro atau setara dengan Rp 18,75 triliun.

Tapi demikian, ada peribahasa yang mengatakan: ‘tak ada gading yang tak retak’. Artinya di balik kesempurnaan Man City saat ini pasti ada celah kelemahannya.

Pertama, Kevin De Bruyne

De Bruyne adalah pemain yang sangat penting bagi Manchester City musim ini. Gelandang asal Belgia tersebut sudah mengumpulkan enam assist dan menyumbangkan dua gol dari 11 penampilan di Premier League. Sembilan gol dan tiga assist di semua kompetisi.

Punya keunggulan umpan-umpan kreatif yang akurat, ia adalah motor penggerak bagi timnya. Pemain 26 tahun tersebut tercatat rata-rata melakukan 70 umpan di setiap pertandingan musim ini.

Selain itu, De Bruyne juga sering menjadi mimpi buruk bagi lini pertahanan lawan. Mantan pemain Chelsea tersebut juga bisa menggiring bola dengan apik. Dan satu lagi, tendangannya jarak jauhnya sering menghadirkan kejutan. Fakta membuktikan bahwa sembilan gol De Bruyne dari 11 gol yang terakhir terjadi lewat tembakan jarak jauh.

Ketika menghadapi Chelsea, De Bruyne pun mencetak gol penentu kemenangan dari tembakan jarak jauh. Ia lebih sering melakukan tembakan seperti ini karena sekarang ia bermain lebih ke dalam dari musim sebelumnya. Sementara gelandang di belakang penyerang diserahkan pada David Silva.

Maka untuk meredam permainan Manchester City, jawabannya—salah satunya—adalah ‘mematikan’ langkah De Bruyne yang merupakan detak jantung permainan mereka. Jika itu bisa dilakukan, mungkin permainan Man City akan sedikit tersendat dan mati.

Kedua, Pertahanan Man City

Musim lalu Man City punya masalah di lini belakang sehingga gagal meraih trofi. Claudio Bravo yang diharapkan bisa menjadi pengganti Joe Hart justru sering melakukan blunder. Hal itu diperburuk dengan barisan pemain belakang yang masih belum kompak. Musim lalu memang banyak pemain belakang yang  baru bergabung dengan Man City termasuk John Stones—menyusul Nicolas Otamendi yang baru gabung satu musim sebelumnya.

Untuk menggantikan peran Bravo yang mengecewakan, Guardiola lantas mendatangkan penjaga gawang baru, Ederson, dari Benfica seharga 35 juta euro.  Pembenahan lini belakang tersebut tampaknya tak sia-sia karena musim ini City telah menunjukkan hasil positif. Manchester City sudah mencatatkan hasil enam kali clean sheet di Premier League saja. Sementara musim lalu memasuki pekan yang sama, mereka baru bisa mencatatkan dua kali clean sheet. Intinya Man City telah mengalami perbaikan di lini pertahanan.

Tapi sebenarnya pertahanan Man City belum bisa dikatakan sempurna tanpa catat. Man City yang mengedepankan  membangun permainan dari belakang bisa dimanfaatkan lawan. Ketika sampai di depan, barisan pertahanan mereka hanya menyisakan tiga pemain. Jika serangan tersebut gagal, Man City berisiko terkena serangan balik.

Napoli punya cara cukup apik untuk mematahkan permainan Man City ketika bertemu di Liga Champions beberapa pekan lalu. Mereka selalu memberi tekanan pada setiap fase permainan yang dibangun Man City dari belakang. Mereka bisa unggul lebih dulu di menit 21 namun kemudian Napoli kehilangan Faouzi Ghoulam yang mengubah pressing  terhadap pemain Man City. Akhirnya Napoli pun kalah 2-4.

Cara bermain seperti itu sempat diikuti Arsenal ketika menghadapi Man City di menit-menit awal sehingga mereka sulit mengembangkan permainan. Meski The Gunners akhirnya harus mengakui keunggulan Manchester City.

Pressing ketat dan skema serangan balik memang tak menjamin kesuksesan untuk menghadapi City. Tapi bagaimanapun, celah pertahanan itu bisa dimanfaatkan oleh tim yang ingin menghentikan laju kemenangan Man City.

Ketiga, Berbenah Bareng

Tak mungkin menghentikan City jika klub lain tak mengalami perbaikan, paling tidak mendekati level City.  Manchester United, misalnya, sebagai penantang  terberat City harus bisa kembali tampil seperti pada awal musim-musim ini.

Tim besutan Jose Mourinho tersebut sempat tak pernah mengalami kekalahan hingga pekan kedelapan, termasuk menahan imbang Liverpool di Anfield. Tapi MU justru kalah ketika menghadapi tim promosi, Huddersfield, pada pekan kesembilan. Yang terakhir, mereka kalah menghadapi Chelsea.

Selain itu, para penantang gelar lainnya seperti Arsenal, Liverpool, Tottenham, dan Chelsea juga harus bisa tampil lebih baik dan konsisten. Arsenal perlu mencari solusi secepat mungkin untuk meningkatkan mentalitas juara setelah hampir 13 tahun tak pernah menjadi juara. Liverpool punya masalah di lini bertahan yang harus segera dibenahi. Sementara itu Tottenham masih kurang maksimal ketika bermain di kandang ‘kontrakan’, di Wembley.

Karena bukan tidak mungkin Manchester City akan terpeleset di masa yang akan datang. Saat itu adalah momentum untuk tim lain memangkas jarak dengan calon juara.  Adapun Man City akan menjalani sejumlah laga relatif berat di antaranya menghadapi Manchester United, Tottenham, Newcastle hingga akhir tahun nanti.

Sementara itu Guardiola sendiri mengakui bahwa semua tim punya potensi mengalahkan kubunya.

“Saya tahu bahwa semua tim bisa mengalahkan kami,” ucap mantan pelatih Barcelona tersebut.

Tapi siapa yang bisa mengalahkan mereka? Mari kita tunggu saja!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *